Isu lingkungan adalah salah satu topik paling penting dalam pendidikan saat ini.
Menulis argumentative text tentang lingkungan membantu siswa memahami permasalahan ekologis sekaligus melatih kemampuan berargumen.
Artikel ini akan memberikan kamu berbagai contoh argumentative text tentang lingkungan dan artinya yang bisa langsung dipelajari.
Mengapa Topik Lingkungan Penting untuk Argumentative Text?
Permasalahan lingkungan mempengaruhi kehidupan setiap orang di planet ini. Menurut Dr. Jane Goodall, environmental activist dan researcher (2024), “Understanding environmental issues through critical writing helps students become informed global citizens who can drive real change.”
Topik lingkungan cocok untuk argumentative text karena:
Urgency Tinggi: Krisis iklim membutuhkan action segera.
Data Abundant: Banyak penelitian scientific tentang dampak lingkungan.
Multiple Perspectives: Pertimbangan ekonomi, sosial, dan ekologis.
Real-World Impact: Argumen dapat mempengaruhi kebijakan dan perilaku.
Contoh 1: Plastic Bags Should Be Banned
Thesis:
Governments should implement complete bans on single-use plastic bags because they cause devastating environmental damage, harm wildlife, and viable alternatives exist.
Pemerintah harus menerapkan larangan penuh pada kantong plastik sekali pakai karena menyebabkan kerusakan lingkungan yang menghancurkan, merusak satwa liar, dan alternatif yang layak ada.
Argument 1:
Plastic bags pollute oceans and waterways, creating massive environmental destruction. Over 8 million tons of plastic enter oceans annually, with plastic bags comprising a significant portion. These bags take 500-1000 years to decompose, accumulating in ocean gyres and creating floating garbage patches. The United Nations Environment Programme (2024) reports that plastic pollution affects over 800 marine species, many facing extinction due to ingestion or entanglement.
Kantong plastik mencemari lautan dan saluran air, menciptakan kerusakan lingkungan yang masif. Lebih dari 8 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahun, dengan kantong plastik terdiri dari porsi yang signifikan. Kantong ini membutuhkan 500-1000 tahun untuk terurai, terakumulasi di gyre laut dan menciptakan tambalan sampah terapung. United Nations Environment Programme (2024) melaporkan bahwa polusi plastik mempengaruhi lebih dari 800 spesies laut, banyak menghadapi kepunahan karena tertelan atau terjerat.
Argument 2:
Plastic bags kill wildlife through ingestion and entanglement. Sea turtles mistake plastic bags for jellyfish, their primary food source, leading to starvation and death. Birds feed plastic fragments to their chicks, causing malnutrition and death. Research from the Ocean Conservancy (2023) documents that plastic bags are among the top ten items found in dead marine animals’ stomachs. Each year, over one million seabirds and 100,000 marine mammals die from plastic pollution.
Kantong plastik membunuh satwa liar melalui tertelan dan terjerat. Penyu laut salah mengira kantong plastik sebagai ubur-ubur, sumber makanan utama mereka, menyebabkan kelaparan dan kematian. Burung memberi makan fragmen plastik kepada anak mereka, menyebabkan malnutrisi dan kematian. Penelitian dari Ocean Conservancy (2023) mendokumentasikan bahwa kantong plastik termasuk di antara sepuluh item teratas yang ditemukan di perut hewan laut yang mati. Setiap tahun, lebih dari satu juta burung laut dan 100.000 mamalia laut mati karena polusi plastik.
Argument 3:
Effective alternatives to plastic bags already exist and are economically viable. Reusable cloth bags, biodegradable bags, and paper bags provide sustainable options. Countries that have implemented plastic bag bans—including Kenya, Rwanda, and Bangladesh—demonstrate successful transitions without economic disruption. In fact, Kenya’s plastic bag ban has spawned new industries producing alternative products, creating jobs while protecting the environment.
Alternatif efektif untuk kantong plastik sudah ada dan secara ekonomi layak. Kantong kain yang dapat digunakan kembali, kantong biodegradable, dan kantong kertas memberikan opsi berkelanjutan. Negara yang telah menerapkan larangan kantong plastik—termasuk Kenya, Rwanda, dan Bangladesh—menunjukkan transisi yang berhasil tanpa gangguan ekonomi. Bahkan, larangan kantong plastik Kenya telah melahirkan industri baru yang memproduksi produk alternatif, menciptakan pekerjaan sambil melindungi lingkungan.
Conclusion:
Therefore, governments worldwide must ban single-use plastic bags immediately. The environmental devastation, wildlife deaths, and availability of alternatives make this policy both necessary and achievable. Individual actions matter, but systemic change through legislation is essential for meaningful environmental protection.
Oleh karena itu, pemerintah di seluruh dunia harus melarang kantong plastik sekali pakai segera. Kehancuran lingkungan, kematian satwa liar, dan ketersediaan alternatif membuat kebijakan ini baik perlu maupun dapat dicapai. Tindakan individu penting, tetapi perubahan sistemik melalui legislasi sangat penting untuk perlindungan lingkungan yang bermakna.
Contoh 2: Renewable Energy Must Replace Fossil Fuels
Thesis:
Nations must transition completely to renewable energy sources within the next decade to prevent catastrophic climate change and ensure sustainable future for coming generations.
Negara harus bertransisi sepenuhnya ke sumber energi terbarukan dalam dekade berikutnya untuk mencegah perubahan iklim katastrofik dan memastikan masa depan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Argument 1:
Fossil fuel combustion drives climate change that threatens human civilization. The Intergovernmental Panel on Climate Change (2024) confirms that burning coal, oil, and gas has increased global temperatures by 1.2°C since pre-industrial times, causing severe weather events, rising sea levels, and ecosystem collapse. If current trends continue, temperatures will rise 2.5-3°C by 2100, triggering irreversible tipping points that make large portions of Earth uninhabitable.
Pembakaran bahan bakar fosil mendorong perubahan iklim yang mengancam peradaban manusia. Intergovernmental Panel on Climate Change (2024) mengonfirmasi bahwa membakar batubara, minyak, dan gas telah meningkatkan suhu global sebesar 1,2°C sejak masa pra-industri, menyebabkan peristiwa cuaca parah, kenaikan permukaan laut, dan keruntuhan ekosistem. Jika tren saat ini berlanjut, suhu akan naik 2,5-3°C pada 2100, memicu titik kritis yang tidak dapat diubah yang membuat sebagian besar Bumi tidak dapat dihuni.
Argument 2:
Renewable energy technology has matured and become economically competitive with fossil fuels. Solar and wind power now cost less than coal and natural gas in most markets. The International Renewable Energy Agency (2023) reports that renewable energy employed 12.7 million people globally, a number projected to reach 40 million by 2030. Installation costs for solar panels have dropped 90% since 2010, making clean energy accessible worldwide.
Teknologi energi terbarukan telah matang dan menjadi kompetitif secara ekonomi dengan bahan bakar fosil. Tenaga surya dan angin sekarang berharga lebih murah daripada batubara dan gas alam di sebagian besar pasar. International Renewable Energy Agency (2023) melaporkan bahwa energi terbarukan mempekerjakan 12,7 juta orang secara global, jumlah yang diproyeksikan mencapai 40 juta pada 2030. Biaya instalasi untuk panel surya telah turun 90% sejak 2010, membuat energi bersih dapat diakses di seluruh dunia.
Argument 3:
Health benefits from eliminating fossil fuel pollution would save millions of lives and trillions in healthcare costs. Air pollution from burning fossil fuels kills approximately 8 million people annually worldwide. Harvard University research (2024) calculates that transitioning to renewable energy would prevent 80% of these deaths while saving $2.9 trillion in annual health costs. Cleaner air particularly benefits children and elderly populations vulnerable to respiratory diseases.
Manfaat kesehatan dari menghilangkan polusi bahan bakar fosil akan menyelamatkan jutaan nyawa dan triliunan dalam biaya kesehatan. Polusi udara dari pembakaran bahan bakar fosil membunuh sekitar 8 juta orang setiap tahun di seluruh dunia. Penelitian Harvard University (2024) menghitung bahwa bertransisi ke energi terbarukan akan mencegah 80% dari kematian ini sambil menghemat $2,9 triliun dalam biaya kesehatan tahunan. Udara lebih bersih terutama menguntungkan anak-anak dan populasi lansia yang rentan terhadap penyakit pernapasan.
Conclusion:
In conclusion, the transition to renewable energy is not optional—it is imperative for planetary survival. The technology exists, the economics are favorable, and the health benefits are enormous. Governments must commit to 100% renewable energy targets with concrete implementation timelines to secure a livable future.
Kesimpulannya, transisi ke energi terbarukan bukan pilihan—ini penting untuk kelangsungan hidup planet. Teknologi ada, ekonominya menguntungkan, dan manfaat kesehatannya sangat besar. Pemerintah harus berkomitmen pada target energi terbarukan 100% dengan jadwal implementasi konkret untuk mengamankan masa depan yang layak huni.
Contoh 3: Deforestation Must Stop Immediately
Thesis:
Global deforestation must cease immediately through strict international regulation because forests are essential for climate stability, biodiversity, and indigenous communities’ survival.
Deforestasi global harus berhenti segera melalui regulasi internasional yang ketat karena hutan sangat penting untuk stabilitas iklim, biodiversitas, dan kelangsungan hidup komunitas adat.
Argument 1:
Forests serve as Earth’s lungs, absorbing massive amounts of carbon dioxide and producing oxygen. The Amazon rainforest alone absorbs 2 billion tons of CO2 annually, playing a critical role in regulating global climate. Deforestation releases this stored carbon back into the atmosphere—approximately 15% of global greenhouse gas emissions come from forest destruction. World Resources Institute (2024) warns that continued deforestation will make achieving Paris Agreement climate targets impossible.
Hutan berfungsi sebagai paru-paru Bumi, menyerap jumlah besar karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Hutan hujan Amazon saja menyerap 2 miliar ton CO2 setiap tahun, memainkan peran kritis dalam mengatur iklim global. Deforestasi melepaskan karbon yang tersimpan ini kembali ke atmosfer—sekitar 15% dari emisi gas rumah kaca global berasal dari perusakan hutan. World Resources Institute (2024) memperingatkan bahwa deforestasi berkelanjutan akan membuat pencapaian target iklim Perjanjian Paris tidak mungkin.
Argument 2:
Deforestation drives species extinction at alarming rates. Forests contain 80% of terrestrial biodiversity, housing millions of plant and animal species. Current deforestation rates cause approximately 137 species extinctions daily. The International Union for Conservation of Nature (2023) reports that habitat loss through deforestation is the primary threat to 85% of endangered species. Once species disappear, they are lost forever, diminishing Earth’s biological richness irreversibly.
Deforestasi mendorong kepunahan spesies pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hutan mengandung 80% biodiversitas terestrial, menampung jutaan spesies tanaman dan hewan. Tingkat deforestasi saat ini menyebabkan sekitar 137 kepunahan spesies setiap hari. International Union for Conservation of Nature (2023) melaporkan bahwa kehilangan habitat melalui deforestasi adalah ancaman utama bagi 85% spesies yang terancam punah. Begitu spesies menghilang, mereka hilang selamanya, mengurangi kekayaan biologis Bumi secara tidak dapat diubah.
Argument 3:
Indigenous communities depend on forests for survival and hold invaluable ecological knowledge. Over 1.6 billion people worldwide rely on forests for livelihoods, with indigenous peoples having protected these ecosystems for millennia. Research consistently shows that indigenous-managed forests have lower deforestation rates than government-protected areas. Destroying forests eliminates both these communities and their irreplaceable traditional knowledge about sustainable forest management.
Komunitas adat bergantung pada hutan untuk kelangsungan hidup dan memegang pengetahuan ekologis yang tak ternilai. Lebih dari 1,6 miliar orang di seluruh dunia bergantung pada hutan untuk mata pencaharian, dengan masyarakat adat telah melindungi ekosistem ini selama ribuan tahun. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa hutan yang dikelola adat memiliki tingkat deforestasi lebih rendah daripada area yang dilindungi pemerintah. Menghancurkan hutan menghilangkan baik komunitas ini maupun pengetahuan tradisional mereka yang tak tergantikan tentang pengelolaan hutan berkelanjutan.
Conclusion:
Consequently, the international community must establish binding treaties that halt deforestation, enforce penalties for violations, and fund forest restoration. The time for voluntary measures has passed—only mandatory global action can preserve remaining forests and prevent irreversible environmental catastrophe.
Akibatnya, komunitas internasional harus menetapkan perjanjian yang mengikat yang menghentikan deforestasi, menegakkan hukuman untuk pelanggaran, dan mendanai restorasi hutan. Waktu untuk tindakan sukarela telah berlalu—hanya tindakan global wajib yang dapat melestarikan hutan yang tersisa dan mencegah bencana lingkungan yang tidak dapat diubah.
Baca Juga: Kursus Writing Bahasa Inggris Online Profesional
Contoh 4: Meat Consumption Should Be Reduced
Thesis:
Individuals and governments must drastically reduce meat consumption because industrial animal agriculture contributes significantly to climate change, environmental degradation, and resource depletion.
Individu dan pemerintah harus secara drastis mengurangi konsumsi daging karena pertanian hewan industri berkontribusi secara signifikan terhadap perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan penipisan sumber daya.
Argument 1:
Animal agriculture produces more greenhouse gas emissions than all transportation combined. Livestock farming generates 14.5% of global greenhouse gases—more than cars, planes, ships, and trains together. Cattle produce methane through digestion, a gas 25 times more potent than CO2 at trapping heat. Oxford University research (2024) demonstrates that shifting to plant-based diets could reduce food-related emissions by up to 70%.
Pertanian hewan menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada semua transportasi digabungkan. Peternakan menghasilkan 14,5% dari gas rumah kaca global—lebih dari mobil, pesawat, kapal, dan kereta bersama-sama. Ternak menghasilkan metana melalui pencernaan, gas 25 kali lebih kuat daripada CO2 dalam menjebak panas. Penelitian Oxford University (2024) menunjukkan bahwa beralih ke diet berbasis tanaman dapat mengurangi emisi terkait makanan hingga 70%.
Argument 2:
Meat production requires enormous quantities of water and land, straining planetary resources. Producing one kilogram of beef requires 15,000 liters of water, while the same amount of vegetables needs only 300 liters. Additionally, 77% of agricultural land is used for livestock, yet animal products provide only 18% of global calorie supply. The United Nations (2023) warns that current meat consumption levels are unsustainable given population growth and resource limitations.
Produksi daging memerlukan jumlah air dan tanah yang sangat besar, membebani sumber daya planet. Memproduksi satu kilogram daging sapi memerlukan 15.000 liter air, sementara jumlah sayuran yang sama hanya memerlukan 300 liter. Selain itu, 77% lahan pertanian digunakan untuk peternakan, namun produk hewan hanya menyediakan 18% dari pasokan kalori global. United Nations (2023) memperingatkan bahwa tingkat konsumsi daging saat ini tidak berkelanjutan mengingat pertumbuhan populasi dan keterbatasan sumber daya.
Argument 3:
Reducing meat consumption improves human health while benefiting the environment. High meat consumption, particularly processed and red meat, increases risks of heart disease, cancer, and diabetes. The Lancet Commission (2024) proposes that adopting planetary health diets—reducing meat to 14 grams daily—could prevent 11 million premature deaths annually while creating sustainable food systems. This win-win scenario benefits both individual health and environmental sustainability.
Mengurangi konsumsi daging meningkatkan kesehatan manusia sambil menguntungkan lingkungan. Konsumsi daging tinggi, terutama daging olahan dan merah, meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Lancet Commission (2024) mengusulkan bahwa mengadopsi diet kesehatan planet—mengurangi daging menjadi 14 gram setiap hari—dapat mencegah 11 juta kematian prematur setiap tahun sambil menciptakan sistem pangan berkelanjutan. Skenario win-win ini menguntungkan baik kesehatan individu maupun keberlanjutan lingkungan.
Conclusion:
In summary, reducing meat consumption is essential for environmental protection and human survival. Governments should implement policies encouraging plant-based diets through taxation, subsidies, and education campaigns. Individual dietary choices collectively create massive environmental impact—choosing plants over meat represents one of the most effective personal actions for fighting climate change.
Singkatnya, mengurangi konsumsi daging sangat penting untuk perlindungan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia. Pemerintah harus menerapkan kebijakan yang mendorong diet berbasis tanaman melalui perpajakan, subsidi, dan kampanye pendidikan. Pilihan diet individu secara kolektif menciptakan dampak lingkungan yang masif—memilih tanaman daripada daging mewakili salah satu tindakan pribadi paling efektif untuk melawan perubahan iklim.
Contoh 5: Electric Vehicles Should Be Mandatory
Thesis:
Governments should mandate a complete transition to electric vehicles by 2035 to reduce air pollution, combat climate change, and improve public health.
Pemerintah harus mewajibkan transisi lengkap ke kendaraan listrik pada 2035 untuk mengurangi polusi udara, memerangi perubahan iklim, dan meningkatkan kesehatan publik.
Argument 1:
Electric vehicles produce zero direct emissions, dramatically improving urban air quality. Transportation accounts for 27% of greenhouse gas emissions in the United States, with passenger vehicles comprising the largest share. Electric vehicles powered by renewable energy generate 50% fewer lifetime emissions than gasoline cars. The European Environment Agency (2024) projects that complete electrification of transport could reduce transport emissions by 90% by 2050.
Kendaraan listrik menghasilkan nol emisi langsung, secara dramatis meningkatkan kualitas udara perkotaan. Transportasi menyumbang 27% dari emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat, dengan kendaraan penumpang terdiri dari bagian terbesar. Kendaraan listrik yang didukung oleh energi terbarukan menghasilkan emisi seumur hidup 50% lebih sedikit daripada mobil bensin. European Environment Agency (2024) memproyeksikan bahwa elektrifikasi lengkap transportasi dapat mengurangi emisi transportasi sebesar 90% pada 2050.
Argument 2:
Electric vehicle technology has achieved price parity and superior performance compared to gasoline vehicles. Battery costs have fallen 89% since 2010, making EVs economically competitive. Electric motors provide instant torque, faster acceleration, and quieter operation. Total ownership costs favor electric vehicles when considering fuel savings and reduced maintenance—EVs have fewer moving parts and require no oil changes, transmission repairs, or exhaust system maintenance.
Teknologi kendaraan listrik telah mencapai paritas harga dan kinerja superior dibandingkan kendaraan bensin. Biaya baterai telah turun 89% sejak 2010, membuat EV kompetitif secara ekonomi. Motor listrik memberikan torsi instan, akselerasi lebih cepat, dan operasi lebih tenang. Biaya kepemilikan total menguntungkan kendaraan listrik ketika mempertimbangkan penghematan bahan bakar dan perawatan berkurang—EV memiliki lebih sedikit bagian bergerak dan tidak memerlukan penggantian oli, perbaikan transmisi, atau perawatan sistem knalpot.
Argument 3:
Mandating electric vehicles creates economic opportunities through new industries and jobs. The global electric vehicle market is projected to reach $1.3 trillion by 2030. Countries investing early in EV infrastructure and manufacturing gain competitive advantages in this growing sector. Norway, which offers strong EV incentives, now has 80% electric vehicle market share and has spawned numerous green tech companies, demonstrating successful transition models.
Mewajibkan kendaraan listrik menciptakan peluang ekonomi melalui industri dan pekerjaan baru. Pasar kendaraan listrik global diproyeksikan mencapai $1,3 triliun pada 2030. Negara yang berinvestasi awal dalam infrastruktur dan manufaktur EV mendapatkan keunggulan kompetitif di sektor yang berkembang ini. Norwegia, yang menawarkan insentif EV kuat, sekarang memiliki pangsa pasar kendaraan listrik 80% dan telah melahirkan banyak perusahaan teknologi hijau, menunjukkan model transisi yang berhasil.
Conclusion:
Therefore, phasing out gasoline vehicles through mandatory EV adoption is both environmentally necessary and economically beneficial. Governments must establish clear timelines, invest in charging infrastructure, and provide incentives to accelerate transition. The technology is ready—only political will remains as the barrier to cleaner transportation.
Oleh karena itu, menghapuskan kendaraan bensin melalui adopsi EV wajib baik perlu secara lingkungan maupun menguntungkan secara ekonomi. Pemerintah harus menetapkan jadwal yang jelas, berinvestasi dalam infrastruktur pengisian daya, dan memberikan insentif untuk mempercepat transisi. Teknologi sudah siap—hanya kehendak politik yang tersisa sebagai penghalang untuk transportasi lebih bersih.
Tips Menulis Argumentative Text tentang Lingkungan
Gunakan Data Scientific: Lingkungan memerlukan fakta dari penelitian credible, bukan opini.
Show Urgency: Jelaskan mengapa action immediate diperlukan dengan data konkret.
Balance Ekonomi dan Ekologi: Akui pertimbangan ekonomi sambil prioritaskan sustainability.
Konkrit, Bukan Abstrak: Gunakan angka spesifik dan contoh nyata daripada generalisasi.
Connect to Readers: Tunjukkan bagaimana isu lingkungan mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.
Kesimpulan
Menulis argumentative text tentang lingkungan adalah cara penting untuk memahami dan mengkomunikasikan urgency krisis ekologis yang kita hadapi. Dengan mempelajari berbagai contoh argumentative text tentang lingkungan dan artinya, kamu dapat mengembangkan kemampuan advocacy dan persuasi yang kuat.
Environmental issues memerlukan informed citizenship dan collective action. Kemampuan menulis argumen convincing tentang topik ini dapat membantu drive perubahan positif di komunitas dan policy level.
Ingin mengembangkan skill argumentative writing tentang isu penting seperti lingkungan? Bergabunglah dengan Kursus Bahasa Inggris Privat Online Termurah di Golden Online Class dan belajar dari tutor berpengalaman!


