Bullying adalah masalah serius yang mempengaruhi jutaan siswa di seluruh dunia.
Menulis hortatory exposition tentang bullying membantu meningkatkan kesadaran dan mendorong action untuk mengatasi masalah ini.
Artikel ini akan memberikan kamu berbagai contoh hortatory exposition tentang bullying dan artinya yang bisa dijadikan referensi belajar.
Mengapa Bullying Topik Penting untuk Hortatory Exposition?
Bullying bukan sekadar masalah remaja yang akan hilang dengan sendirinya. Menurut UNESCO (2024), 1 dari 3 siswa di dunia pernah mengalami bullying di sekolah. Hortatory exposition tentang bullying tidak hanya meyakinkan pembaca bahwa bullying itu buruk, tetapi juga mendorong tindakan konkret untuk mencegah dan mengatasi bullying.
Struktur Hortatory Exposition
Thesis: Pernyataan posisi tentang isu bullying.
Arguments: Alasan mengapa bullying harus dihentikan dengan bukti kuat.
Recommendation: Saran konkret dan actionable untuk mengatasi bullying.
Contoh 1: Stop School Bullying Now
Thesis:
Schools must implement comprehensive anti-bullying programs immediately to protect students’ mental health and create safe learning environments.
Sekolah harus menerapkan program anti-bullying yang komprehensif segera untuk melindungi kesehatan mental siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Argument 1:
Bullying causes severe psychological damage that can last a lifetime. Research from the American Psychological Association (2024) shows that bullying victims are three times more likely to experience depression, anxiety, and suicidal thoughts. Many victims carry emotional scars into adulthood, affecting their relationships, careers, and overall wellbeing.
Bullying menyebabkan kerusakan psikologis parah yang bisa bertahan seumur hidup. Penelitian dari American Psychological Association (2024) menunjukkan bahwa korban bullying tiga kali lebih mungkin mengalami depresi, kecemasan, dan pikiran bunuh diri. Banyak korban membawa luka emosional hingga dewasa, mempengaruhi hubungan, karir, dan kesejahteraan mereka.
Argument 2:
Academic performance suffers dramatically when students are bullied. Victims often skip school to avoid tormentors, leading to chronic absenteeism and falling grades. A study by the National Center for Education Statistics (2023) found that bullied students score 15-20% lower on standardized tests. This academic decline limits future opportunities.
Prestasi akademik menurun drastis ketika siswa di-bully. Korban sering bolos sekolah untuk menghindari pelaku, menyebabkan ketidakhadiran kronis dan nilai yang turun. Studi oleh National Center for Education Statistics (2023) menemukan bahwa siswa yang di-bully mendapat nilai 15-20% lebih rendah pada tes standar. Penurunan akademik ini membatasi peluang masa depan.
Argument 3:
Bullying creates toxic school environments that harm everyone. Witnesses to bullying experience stress, fear, and guilt. Teachers spend valuable time addressing conflicts rather than teaching. The entire school culture deteriorates when bullying is tolerated.
Bullying menciptakan lingkungan sekolah yang beracun yang merugikan semua orang. Saksi bullying mengalami stres, ketakutan, dan rasa bersalah. Guru menghabiskan waktu berharga menangani konflik daripada mengajar. Seluruh budaya sekolah memburuk ketika bullying ditoleransi.
Recommendation:
Schools must take immediate action: First, establish comprehensive anti-bullying programs with clear definitions and reporting systems. Second, train all staff to recognize and intervene effectively. Third, create anonymous reporting mechanisms for safe reporting. Fourth, provide counseling for victims and perpetrators. Fifth, involve parents through mandatory workshops. Sixth, enforce zero-tolerance policies with consistent consequences. These actions are essential for creating safe learning environments.
Sekolah harus mengambil tindakan segera: Pertama, tetapkan program anti-bullying komprehensif dengan definisi jelas dan sistem pelaporan. Kedua, latih semua staf untuk mengenali dan mengintervensi secara efektif. Ketiga, buat mekanisme pelaporan anonim untuk pelaporan yang aman. Keempat, sediakan konseling untuk korban dan pelaku. Kelima, libatkan orang tua melalui workshop wajib. Keenam, tegakkan kebijakan zero-tolerance dengan konsekuensi konsisten. Tindakan ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Contoh 2: Combat Cyberbullying
Thesis:
Cyberbullying poses unique dangers that demand immediate action from parents, schools, and tech companies to protect young people’s mental health.
Cyberbullying menimbulkan bahaya unik yang menuntut tindakan segera dari orang tua, sekolah, dan perusahaan teknologi untuk melindungi kesehatan mental anak muda.
Argument 1:
Cyberbullying operates 24/7 without escape. Unlike traditional bullying, online harassment follows victims home and continues through nights and weekends. The Cyberbullying Research Center (2024) reports that victims experience sleep disruption, eating disorders, and severe anxiety at rates 40% higher than traditional bullying victims.
Cyberbullying beroperasi 24/7 tanpa pelarian. Tidak seperti bullying tradisional, pelecehan online mengikuti korban pulang dan berlanjut sepanjang malam dan akhir pekan. Cyberbullying Research Center (2024) melaporkan bahwa korban mengalami gangguan tidur, gangguan makan, dan kecemasan parah pada tingkat 40% lebih tinggi.
Argument 2:
Digital content permanence amplifies trauma. Embarrassing photos or messages spread instantly to thousands and remain online indefinitely. This permanent record affects college admissions, job prospects, and relationships years later. The viral nature reaches far beyond immediate peer groups.
Permanensi konten digital memperkuat trauma. Foto atau pesan memalukan menyebar secara instan ke ribuan orang dan tetap online tanpa batas. Catatan permanen ini mempengaruhi penerimaan kuliah, prospek pekerjaan, dan hubungan bertahun-tahun kemudian. Sifat viral menjangkau jauh melampaui kelompok sebaya.
Argument 3:
Anonymity emboldens perpetrators. Bullies hide behind fake accounts, making identification difficult. Research from MIT (2023) shows anonymous cyberbullies use language 60% more aggressive than identified users.
Anonimitas membuat pelaku berani. Pelaku bersembunyi di balik akun palsu, membuat identifikasi sulit. Penelitian dari MIT (2023) menunjukkan pelaku cyberbullying anonim menggunakan bahasa 60% lebih agresif.
Recommendation:
Multiple stakeholders must act: Parents must monitor children’s online activities and discuss digital citizenship. Schools must extend anti-bullying policies to digital spaces and educate about responsible online behavior. Tech companies must improve reporting mechanisms and AI detection systems. Law enforcement must treat severe cyberbullying as criminal harassment. Every delay costs lives, act immediately.
Berbagai pemangku kepentingan harus bertindak: Orang tua harus memantau aktivitas online anak dan mendiskusikan kewargaan digital. Sekolah harus memperluas kebijakan anti-bullying ke ruang digital dan mendidik tentang perilaku online yang bertanggung jawab. Perusahaan teknologi harus meningkatkan mekanisme pelaporan dan sistem deteksi AI. Penegak hukum harus memperlakukan cyberbullying parah sebagai pelecehan kriminal. Setiap penundaan merugikan nyawa, bertindaklah segera.
Contoh 3: Empower Bystanders
Thesis:
Students who witness bullying must be empowered to intervene, as bystander silence enables bullies and perpetuates harm.
Siswa yang menyaksikan bullying harus diberdayakan untuk mengintervensi, karena keheningan saksi mata memungkinkan pelaku dan melanggengkan bahaya.
Argument 1:
Bystander intervention stops bullying effectively. Research from University of British Columbia (2024) shows that when bystanders intervene, bullying stops within 10 seconds in 57% of cases. Bullies seek audience approval which disappears when peers oppose their behavior.
Intervensi saksi mata menghentikan bullying secara efektif. Penelitian dari University of British Columbia (2024) menunjukkan bahwa ketika saksi mata mengintervensi, bullying berhenti dalam 10 detik pada 57% kasus. Pelaku mencari persetujuan audiens yang menghilang ketika teman sebaya menentang perilaku mereka.
Argument 2:
Silence signals approval and encourages continued bullying. When students witness without responding, bullies interpret this as acceptance. This emboldens perpetrators to escalate harassment.
Keheningan menandakan persetujuan dan mendorong bullying berkelanjutan. Ketika siswa menyaksikan tanpa merespons, pelaku menafsirkan ini sebagai penerimaan. Ini membuat pelaku lebih berani meningkatkan pelecehan.
Argument 3:
Witnessing bullying causes guilt and psychological harm to bystanders themselves. Students who fail to help experience guilt, anxiety, and reduced self-esteem.
Menyaksikan bullying menyebabkan rasa bersalah dan bahaya psikologis pada saksi mata sendiri. Siswa yang gagal membantu mengalami rasa bersalah, kecemasan, dan harga diri yang berkurang.
Recommendation:
Schools must empower bystanders: First, teach safe intervention strategies including confronting bullies, supporting victims, and reporting to adults. Second, create buddy systems pairing vulnerable students with protectors. Third, recognize students showing bystander courage. Fourth, ensure multiple reporting channels with retaliation protection. Fifth, practice scenarios through role-playing. Every student must understand their power to stop bullying.
Sekolah harus memberdayakan saksi mata: Pertama, ajarkan strategi intervensi aman termasuk menghadapi pelaku, mendukung korban, dan melaporkan ke orang dewasa. Kedua, buat sistem buddy yang memasangkan siswa rentan dengan pelindung. Ketiga, kenali siswa yang menunjukkan keberanian saksi mata. Keempat, pastikan berbagai saluran pelaporan dengan perlindungan pembalasan. Kelima, latih skenario melalui permainan peran. Setiap siswa harus memahami kekuatan mereka untuk menghentikan bullying.
Baca Juga: Materi Bahasa Inggris Kelas 12 Semester 1 & 2: Ringkasan Lengkap
Contoh 4: Prevent Workplace Bullying
Thesis:
Companies must implement strict anti-bullying policies to protect employee wellbeing and organizational productivity.
Perusahaan harus menerapkan kebijakan anti-bullying yang ketat untuk melindungi kesejahteraan karyawan dan produktivitas organisasi.
Argument 1:
Workplace bullying causes severe health consequences. Victims experience chronic stress, anxiety, depression, and PTSD. The Workplace Bullying Institute (2024) documents that 71% of targets suffer stress-related health problems including hypertension and cardiovascular disease.
Bullying di tempat kerja menyebabkan konsekuensi kesehatan yang parah. Korban mengalami stres kronis, kecemasan, depresi, dan PTSD. Workplace Bullying Institute (2024) mendokumentasikan bahwa 71% target menderita masalah kesehatan terkait stres termasuk hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Argument 2:
Organizational performance suffers dramatically. High turnover, increased absenteeism, and decreased productivity impact bottom lines. Harvard Business Review (2023) shows companies with high bullying rates experience 30% higher turnover and 25% lower productivity.
Kinerja organisasi menderita secara dramatis. Turnover tinggi, peningkatan ketidakhadiran, dan penurunan produktivitas mempengaruhi laba. Harvard Business Review (2023) menunjukkan perusahaan dengan tingkat bullying tinggi mengalami turnover 30% lebih tinggi dan produktivitas 25% lebih rendah.
Argument 3:
Legal and reputational risks make addressing bullying imperative. Companies face lawsuits and reputation damage. Social media amplifies workplace bullying stories, making recruitment difficult.
Risiko hukum dan reputasi membuat menangani bullying menjadi imperatif. Perusahaan menghadapi tuntutan dan kerusakan reputasi. Media sosial memperkuat cerita bullying, membuat rekrutmen sulit.
Recommendation:
Corporations must act: First, establish clear anti-bullying policies. Second, train managers to recognize and intervene. Third, create confidential reporting with retaliation protection. Fourth, investigate complaints promptly. Fifth, hold bullies accountable through discipline up to termination. Sixth, promote respectful cultures through leadership. Seventh, provide support for affected employees.
Korporasi harus bertindak: Pertama, tetapkan kebijakan anti-bullying yang jelas. Kedua, latih manajer untuk mengenali dan mengintervensi. Ketiga, buat pelaporan rahasia dengan perlindungan pembalasan. Keempat, selidiki keluhan dengan segera. Kelima, pegang pelaku bertanggung jawab melalui disiplin hingga pemecatan. Keenam, promosikan budaya hormat melalui kepemimpinan. Ketujuh, sediakan dukungan untuk karyawan terdampak.
Contoh 5: Zero Tolerance Policies
Thesis:
Schools must adopt strict zero tolerance policies with serious consequences to demonstrate bullying is unacceptable.
Sekolah harus mengadopsi kebijakan zero tolerance yang ketat dengan konsekuensi serius untuk menunjukkan bullying tidak dapat diterima.
Argument 1:
Lenient responses send message behavior is tolerable. When schools respond with minor consequences, bullies learn they can continue. Clear consequences establish bullying is unacceptable.
Respons lunak mengirimkan pesan perilaku dapat ditoleransi. Ketika sekolah merespons dengan konsekuensi kecil, pelaku belajar mereka dapat melanjutkan. Konsekuensi jelas menetapkan bullying tidak dapat diterima.
Argument 2:
Zero tolerance protects victims and demonstrates institutional commitment. Students need to know schools take bullying seriously. Research shows schools with strict policies have 40% fewer cases.
Zero tolerance melindungi korban dan menunjukkan komitmen institusional. Siswa perlu tahu sekolah menganggap bullying serius. Penelitian menunjukkan sekolah dengan kebijakan ketat memiliki 40% lebih sedikit kasus.
Argument 3:
Consistent consequences teach accountability and provide rehabilitation opportunities. Progressive discipline with counseling helps perpetrators understand impact and develop empathy.
Konsekuensi konsisten mengajarkan akuntabilitas dan memberikan peluang rehabilitasi. Disiplin progresif dengan konseling membantu pelaku memahami dampak dan mengembangkan empati.
Recommendation:
Schools must implement frameworks: First, define bullying clearly with examples and consequences. Second, train staff to recognize and respond consistently. Third, establish mandatory reporting. Fourth, implement progressive discipline starting with suspension for physical bullying. Fifth, require counseling before allowing return. Zero tolerance means zero excuses for harm.
Sekolah harus menerapkan kerangka: Pertama, definisikan bullying dengan jelas dengan contoh dan konsekuensi. Kedua, latih staf untuk mengenali dan merespons secara konsisten. Ketiga, tetapkan pelaporan wajib. Keempat, terapkan disiplin progresif dimulai dengan skorsing untuk bullying fisik. Kelima, wajibkan konseling sebelum mengizinkan kembali. Zero tolerance berarti tanpa alasan untuk menyakiti.
Tips Menulis Hortatory Exposition tentang Bullying
Gunakan Data Terkini: Bullying research berkembang pesat, gunakan sumber 2023-2024.
Tunjukkan Urgency: Gunakan bahasa yang menekankan action segera: “must,” “immediately.”
Recommendation Spesifik: Berikan langkah konkret yang actionable, bukan vague.
Address Multiple Stakeholders: Bullying membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Balance Emotion dan Logic: Topik emosional tapi argumen harus didukung data.
Kesimpulan
Menulis hortatory exposition tentang bullying adalah cara powerful untuk meningkatkan awareness dan mendorong action nyata. Dengan mempelajari berbagai contoh hortatory exposition tentang bullying dan artinya, kamu bisa memahami cara menyusun argumen persuasif yang menggerakkan pembaca.
Yang membedakan hortatory exposition adalah recommendation section yang konkret. Jangan hanya katakan bullying buruk, berikan roadmap untuk memeranginya.
Ingin menguasai writing bahasa Inggris? Bergabunglah dengan kursus bahasa Inggris privat online dan dapatkan bimbingan comprehensive!

