Hortatory exposition text adalah jenis teks persuasif yang tidak hanya meyakinkan pembaca tetapi juga mendorong mereka untuk mengambil tindakan spesifik.
Topik pendidikan sangat cocok untuk hortatory exposition karena selalu ada ruang untuk improvement.
Artikel ini akan memberikan kamu berbagai contoh hortatory exposition tentang pendidikan beserta terjemahan yang lengkap dan mudah dipahami.
Apa Bedanya Hortatory Exposition dengan Argumentative Text?
Menurut Professor Barbara Kamler dari Deakin University (2024), “Hortatory exposition goes beyond persuasion—it actively calls readers to specific action, making it a powerful tool for social change.”
Argumentative Text: Meyakinkan pembaca untuk mempercayai pendapat.
Hortatory Exposition: Meyakinkan pembaca untuk MELAKUKAN sesuatu.
Perbedaan Struktur:
Argumentative: Thesis – Arguments – Conclusion
Hortatory Exposition: Thesis – Arguments – Recommendation
Recommendation adalah ciri khas hortatory exposition yang berisi saran konkret tentang tindakan yang harus diambil.
Contoh 1: Reduce School Hours
Thesis:
Schools must reduce daily class hours from 8 to 6 hours to improve student wellbeing and academic performance.
Sekolah harus mengurangi jam pelajaran harian dari 8 menjadi 6 jam untuk meningkatkan kesejahteraan dan prestasi akademik siswa.
Argument 1:
Extended school hours cause chronic fatigue that impairs learning. Research from the National Sleep Foundation (2024) shows that teenagers require 8-10 hours of sleep, yet most receive only 6-7 hours due to late homework completion. This sleep deprivation reduces cognitive function by 30%, undermines memory consolidation, and increases irritability. Students cannot learn effectively when exhausted.
Jam sekolah yang panjang menyebabkan kelelahan kronis yang mengganggu pembelajaran. Penelitian dari National Sleep Foundation (2024) menunjukkan bahwa remaja memerlukan 8-10 jam tidur, namun sebagian besar hanya mendapat 6-7 jam karena menyelesaikan pekerjaan rumah hingga larut malam. Kurang tidur ini mengurangi fungsi kognitif sebesar 30%, merusak konsolidasi memori, dan meningkatkan iritabilitas. Siswa tidak dapat belajar secara efektif saat kelelahan.
Argument 2:
Shorter school days actually improve academic outcomes. Finland, which implements 5-6 hour school days, consistently ranks among top performers in international assessments. Their students score higher in math, science, and reading compared to countries with longer school hours. The key is quality over quantity—focused, engaged learning beats exhausted seat-time.
Hari sekolah yang lebih pendek sebenarnya meningkatkan hasil akademik. Finlandia, yang menerapkan hari sekolah 5-6 jam, secara konsisten berada di peringkat teratas dalam penilaian internasional. Siswa mereka mendapat nilai lebih tinggi dalam matematika, sains, dan membaca dibandingkan negara dengan jam sekolah lebih panjang. Kuncinya adalah kualitas daripada kuantitas—pembelajaran yang fokus dan engaged mengalahkan waktu duduk yang kelelahan.
Argument 3:
Reduced hours allow time for essential non-academic development. Students need time for physical activity, creative pursuits, family interaction, and rest. Currently, many students go straight from school to tutoring or homework with no time for balanced development. The American Academy of Pediatrics (2023) warns that this lifestyle contributes to rising anxiety and depression rates among youth.
Jam yang berkurang memungkinkan waktu untuk pengembangan non-akademik yang esensial. Siswa memerlukan waktu untuk aktivitas fisik, kegiatan kreatif, interaksi keluarga, dan istirahat. Saat ini, banyak siswa langsung dari sekolah ke les atau pekerjaan rumah tanpa waktu untuk pengembangan seimbang. American Academy of Pediatrics (2023) memperingatkan bahwa gaya hidup ini berkontribusi pada peningkatan tingkat kecemasan dan depresi di kalangan remaja.
Recommendation:
Therefore, educational authorities must implement the following changes immediately: First, reduce daily school hours to maximum 6 hours of core instruction. Second, eliminate unnecessary administrative time and focus schedules on essential subjects. Third, reassign homework to be completed during school hours rather than at home. Fourth, provide professional development for teachers to deliver more effective, concentrated lessons. Fifth, monitor student wellbeing indicators quarterly to assess policy effectiveness. These concrete steps will create healthier, more successful learning environments.
Oleh karena itu, otoritas pendidikan harus menerapkan perubahan berikut segera: Pertama, kurangi jam sekolah harian menjadi maksimal 6 jam instruksi inti. Kedua, hilangkan waktu administratif yang tidak perlu dan fokuskan jadwal pada mata pelajaran esensial. Ketiga, tugaskan pekerjaan rumah untuk diselesaikan selama jam sekolah daripada di rumah. Keempat, berikan pengembangan profesional untuk guru agar memberikan pelajaran yang lebih efektif dan terkonsentrasi. Kelima, pantau indikator kesejahteraan siswa setiap kuartal untuk menilai efektivitas kebijakan. Langkah konkret ini akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan sukses.
Contoh 2: Ban Smartphones in Elementary Schools
Thesis:
Elementary schools must completely ban smartphones on campus to protect young children’s cognitive development and social skills.
Sekolah dasar harus sepenuhnya melarang smartphone di kampus untuk melindungi perkembangan kognitif dan keterampilan sosial anak-anak kecil.
Argument 1:
Smartphone use during critical developmental years impairs brain development. Neurological research from Cambridge University (2024) demonstrates that excessive screen time in children aged 6-12 physically alters brain structure, particularly in areas controlling attention, impulse control, and emotional regulation. Children exposed to smartphones for 2+ hours daily show 15% thinner cortexes in regions associated with critical thinking.
Penggunaan smartphone selama tahun-tahun perkembangan kritis mengganggu perkembangan otak. Penelitian neurologis dari Cambridge University (2024) menunjukkan bahwa waktu layar berlebihan pada anak usia 6-12 tahun secara fisik mengubah struktur otak, terutama di area yang mengontrol perhatian, kontrol impuls, dan regulasi emosional. Anak-anak yang terpapar smartphone selama 2+ jam setiap hari menunjukkan korteks 15% lebih tipis di wilayah yang terkait dengan pemikiran kritis.
Argument 2:
Smartphones destroy face-to-face social skill development. Elementary school is when children learn to read facial expressions, navigate conflicts, and build empathy through direct interaction. When students use smartphones during breaks, they miss these crucial social learning opportunities. Studies show that children with heavy smartphone use struggle significantly more with peer relationships and conflict resolution.
Smartphone menghancurkan pengembangan keterampilan sosial tatap muka. Sekolah dasar adalah saat anak-anak belajar membaca ekspresi wajah, mengatasi konflik, dan membangun empati melalui interaksi langsung. Ketika siswa menggunakan smartphone selama istirahat, mereka melewatkan peluang pembelajaran sosial krusial ini. Studi menunjukkan bahwa anak-anak dengan penggunaan smartphone berat berjuang secara signifikan lebih banyak dengan hubungan rekan dan resolusi konflik.
Argument 3:
Young children lack the maturity to use smartphones responsibly. They are vulnerable to inappropriate content, cyberbullying, and online predators. The FBI reports that children with unrestricted smartphone access are 4 times more likely to encounter dangerous situations online. Elementary students simply cannot make informed decisions about digital safety.
Anak-anak kecil kurang matang untuk menggunakan smartphone secara bertanggung jawab. Mereka rentan terhadap konten tidak pantas, perundungan siber, dan predator online. FBI melaporkan bahwa anak-anak dengan akses smartphone tanpa batas 4 kali lebih mungkin mengalami situasi berbahaya online. Siswa SD tidak dapat membuat keputusan informed tentang keamanan digital.
Recommendation:
Schools must take decisive action now: First, implement zero-tolerance smartphone policies with devices collected at arrival and returned at dismissal. Second, provide secure storage lockers for student phones. Third, educate parents about developmental risks through mandatory workshops. Fourth, offer alternative communication methods for parent contact through school offices. Fifth, train teachers to enforce policies consistently. This is not about convenience—it is about protecting children’s developmental futures.
Sekolah harus mengambil tindakan tegas sekarang: Pertama, terapkan kebijakan tanpa toleransi smartphone dengan perangkat dikumpulkan saat kedatangan dan dikembalikan saat pulang. Kedua, sediakan loker penyimpanan aman untuk ponsel siswa. Ketiga, edukasi orang tua tentang risiko perkembangan melalui workshop wajib. Keempat, tawarkan metode komunikasi alternatif untuk kontak orang tua melalui kantor sekolah. Kelima, latih guru untuk menegakkan kebijakan secara konsisten. Ini bukan tentang kenyamanan—ini tentang melindungi masa depan perkembangan anak-anak.
Contoh 3: Make Financial Literacy Mandatory
Thesis:
High schools must make financial literacy a mandatory graduation requirement to prepare students for economic independence and prevent future financial disasters.
SMA harus menjadikan literasi keuangan sebagai persyaratan kelulusan wajib untuk mempersiapkan siswa untuk kemandirian ekonomi dan mencegah bencana keuangan masa depan.
Argument 1:
Most graduates lack basic financial knowledge necessary for adult life. A survey by the National Financial Educators Council (2024) found that 65% of high school graduates cannot explain compound interest, create budgets, or understand credit scores. This ignorance costs Americans an average of $1,634 annually in poor financial decisions. Young adults graduate unprepared for financial reality.
Sebagian besar lulusan kurang pengetahuan keuangan dasar yang diperlukan untuk kehidupan dewasa. Survei oleh National Financial Educators Council (2024) menemukan bahwa 65% lulusan SMA tidak dapat menjelaskan bunga majemuk, membuat anggaran, atau memahami skor kredit. Ketidaktahuan ini merugikan orang Amerika rata-rata $1.634 setiap tahun dalam keputusan keuangan yang buruk. Dewasa muda lulus tidak siap untuk realitas keuangan.
Argument 2:
Financial education prevents crippling debt and bankruptcy. Student loan debt exceeds $1.7 trillion in the United States, with many borrowers not understanding loan terms before signing. Credit card debt similarly enslaves young adults who never learned about interest rates and minimum payments. States that implemented financial literacy requirements saw 20% fewer bankruptcy filings among young adults within five years.
Pendidikan keuangan mencegah hutang yang melumpuhkan dan kebangkrutan. Hutang pinjaman mahasiswa melebihi $1,7 triliun di Amerika Serikat, dengan banyak peminjam tidak memahami syarat pinjaman sebelum menandatangani. Hutang kartu kredit sama-sama memperbudak dewasa muda yang tidak pernah belajar tentang suku bunga dan pembayaran minimum. Negara yang menerapkan persyaratan literasi keuangan melihat pengajuan kebangkrutan 20% lebih sedikit di kalangan dewasa muda dalam lima tahun.
Argument 3:
Financial literacy empowers economic mobility and wealth building. Understanding investing, retirement planning, and asset management allows individuals to build generational wealth. Without this knowledge, wealth gaps perpetuate as financially literate families pull ahead while others struggle. Education is the key to breaking cycles of poverty.
Literasi keuangan memberdayakan mobilitas ekonomi dan pembangunan kekayaan. Memahami investasi, perencanaan pensiun, dan manajemen aset memungkinkan individu membangun kekayaan generasi. Tanpa pengetahuan ini, kesenjangan kekayaan terus berlanjut karena keluarga yang melek finansial maju sementara yang lain berjuang. Pendidikan adalah kunci untuk memutus siklus kemiskinan.
Recommendation:
Educational boards must act without delay: First, establish comprehensive one-year financial literacy courses covering budgeting, investing, taxes, and credit. Second, hire certified financial educators or provide teacher training programs. Third, incorporate practical simulations—stock market games, budget challenges, loan calculators. Fourth, partner with local banks and financial institutions for guest lectures and internships. Fifth, make course completion a non-negotiable graduation requirement starting with the next school year. Our students’ economic futures depend on immediate implementation.
Dewan pendidikan harus bertindak tanpa penundaan: Pertama, tetapkan kursus literasi keuangan komprehensif satu tahun yang mencakup penganggaran, investasi, pajak, dan kredit. Kedua, pekerjakan pendidik keuangan bersertifikat atau sediakan program pelatihan guru. Ketiga, gabungkan simulasi praktis—permainan pasar saham, tantangan anggaran, kalkulator pinjaman. Keempat, bermitra dengan bank lokal dan institusi keuangan untuk kuliah tamu dan magang. Kelima, jadikan penyelesaian kursus sebagai persyaratan kelulusan yang tidak dapat dinegosiasikan mulai tahun ajaran berikutnya. Masa depan ekonomi siswa kita bergantung pada implementasi segera.
Baca Juga: Kursus Writing Bahasa Inggris Online Profesional
Contoh 4: Provide Free School Meals
Thesis:
All public schools must provide free nutritious meals to every student regardless of family income to ensure equal learning opportunities and improve public health.
Semua sekolah negeri harus menyediakan makanan bergizi gratis untuk setiap siswa terlepas dari pendapatan keluarga untuk memastikan kesempatan belajar yang setara dan meningkatkan kesehatan publik.
Argument 1:
Hunger directly impairs academic performance and cognitive function. Students cannot concentrate when hungry—their brains literally lack the glucose needed for optimal function. Research from the Food Research & Action Center (2024) shows that food-insecure students score 15-20% lower on standardized tests and have higher absenteeism rates. Free meals eliminate this barrier to learning.
Kelaparan secara langsung mengganggu kinerja akademik dan fungsi kognitif. Siswa tidak dapat berkonsentrasi saat lapar—otak mereka secara literal kekurangan glukosa yang diperlukan untuk fungsi optimal. Penelitian dari Food Research & Action Center (2024) menunjukkan bahwa siswa yang tidak aman pangan mendapat nilai 15-20% lebih rendah pada tes standar dan memiliki tingkat ketidakhadiran lebih tinggi. Makanan gratis menghilangkan hambatan pembelajaran ini.
Argument 2:
Universal free meals reduce stigma and ensure all children receive nutrition. Current free lunch programs require income verification, creating embarrassment for recipients. Many eligible families don’t apply due to shame or complicated paperwork, leaving hungry children unserved. Universal programs in Sweden and Finland demonstrate that providing meals to all students eliminates stigma while improving overall nutrition.
Makanan gratis universal mengurangi stigma dan memastikan semua anak menerima nutrisi. Program makan siang gratis saat ini memerlukan verifikasi pendapatan, menciptakan rasa malu bagi penerima. Banyak keluarga yang memenuhi syarat tidak melamar karena rasa malu atau dokumen yang rumit, meninggalkan anak-anak lapar tidak terlayani. Program universal di Swedia dan Finlandia menunjukkan bahwa menyediakan makanan untuk semua siswa menghilangkan stigma sambil meningkatkan nutrisi keseluruhan.
Argument 3:
Free school meals represent cost-effective public health investment. Childhood nutrition establishes lifelong eating habits and health trajectories. Providing balanced meals combats childhood obesity, reduces diabetes risk, and improves long-term health outcomes. Economic analysis shows that every dollar spent on school meal programs saves $2-3 in future healthcare costs.
Makanan sekolah gratis mewakili investasi kesehatan publik yang cost-effective. Nutrisi masa kanak-kanak menetapkan kebiasaan makan seumur hidup dan lintasan kesehatan. Menyediakan makanan seimbang memerangi obesitas anak, mengurangi risiko diabetes, dan meningkatkan hasil kesehatan jangka panjang. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa setiap dolar yang dihabiskan untuk program makanan sekolah menghemat $2-3 dalam biaya kesehatan masa depan.
Recommendation:
Governments and school districts must prioritize universal free meal programs: First, allocate federal and state funding to cover meal costs for all students without income requirements. Second, upgrade kitchen facilities and hire qualified nutrition staff to prepare fresh, balanced meals. Third, source ingredients from local farms to support communities while ensuring quality. Fourth, eliminate meal debt policies that shame families. Fifth, implement breakfast and lunch programs simultaneously, as both meals are critical for learning. Children should never be hungry in school—period.
Pemerintah dan distrik sekolah harus memprioritaskan program makanan gratis universal: Pertama, alokasikan pendanaan federal dan negara bagian untuk menutupi biaya makanan untuk semua siswa tanpa persyaratan pendapatan. Kedua, upgrade fasilitas dapur dan pekerjakan staf nutrisi berkualitas untuk menyiapkan makanan segar dan seimbang. Ketiga, sumber bahan dari pertanian lokal untuk mendukung komunitas sambil memastikan kualitas. Keempat, hilangkan kebijakan hutang makanan yang mempermalukan keluarga. Kelima, terapkan program sarapan dan makan siang secara bersamaan, karena kedua makanan sangat penting untuk pembelajaran. Anak-anak tidak boleh pernah lapar di sekolah—titik.
Contoh 5: Increase Teacher Salaries
Thesis:
Governments must substantially increase teacher salaries to at least match other professions requiring similar education levels, ensuring quality education for future generations.
Pemerintah harus secara substansial meningkatkan gaji guru untuk setidaknya menyamai profesi lain yang memerlukan tingkat pendidikan serupa, memastikan pendidikan berkualitas untuk generasi masa depan.
Argument 1:
Low teacher salaries drive talented individuals away from the profession. The average teacher salary is 20% below comparable professions like engineering, accounting, or nursing despite requiring similar education credentials. This wage gap pushes bright graduates toward higher-paying careers, leaving teaching to those with fewer options. We cannot build excellent education systems with second-choice professionals.
Gaji guru yang rendah mengusir individu berbakat dari profesi ini. Gaji guru rata-rata 20% di bawah profesi sebanding seperti teknik, akuntansi, atau keperawatan meskipun memerlukan kredensial pendidikan serupa. Kesenjangan upah ini mendorong lulusan cerdas menuju karir bergaji lebih tinggi, meninggalkan pengajaran untuk mereka dengan lebih sedikit pilihan. Kita tidak dapat membangun sistem pendidikan yang sangat baik dengan profesional pilihan kedua.
Argument 2:
Inadequate compensation causes massive teacher shortages and high turnover. Over 300,000 teacher positions remain unfilled in the United States, forcing schools to use unqualified substitutes or increase class sizes. Additionally, 30% of new teachers quit within five years, citing financial stress. This turnover disrupts student learning and wastes training investments. Competitive salaries would stabilize the profession.
Kompensasi yang tidak memadai menyebabkan kekurangan guru besar-besaran dan turnover tinggi. Lebih dari 300.000 posisi guru tetap tidak terisi di Amerika Serikat, memaksa sekolah menggunakan pengganti yang tidak berkualitas atau meningkatkan ukuran kelas. Selain itu, 30% guru baru berhenti dalam lima tahun, mengutip stres keuangan. Turnover ini mengganggu pembelajaran siswa dan membuang investasi pelatihan. Gaji kompetitif akan menstabilkan profesi.
Argument 3:
Teacher quality directly determines student outcomes and national competitiveness. Countries with highly-paid, respected teachers—like Finland, Singapore, and South Korea—consistently outperform others in international assessments. Research confirms that teacher quality is the single most important school-based factor affecting student achievement. Investing in teachers yields returns far exceeding costs through improved workforce quality.
Kualitas guru secara langsung menentukan hasil siswa dan daya saing nasional. Negara dengan guru yang dibayar tinggi dan dihormati—seperti Finlandia, Singapura, dan Korea Selatan—secara konsisten mengungguli yang lain dalam penilaian internasional. Penelitian mengonfirmasi bahwa kualitas guru adalah faktor berbasis sekolah tunggal paling penting yang mempengaruhi pencapaian siswa. Berinvestasi pada guru menghasilkan pengembalian yang jauh melebihi biaya melalui peningkatan kualitas tenaga kerja.
Recommendation:
Legislative bodies must take immediate budgetary action: First, increase teacher base salaries by minimum 30% to achieve parity with comparable professions. Second, create performance incentives and merit pay systems rewarding excellence. Third, provide loan forgiveness programs for teachers in high-need areas. Fourth, establish clear salary progression pathways encouraging career longevity. Fifth, fund these increases through progressive taxation and educational budget reallocation from administrative costs. This is not expenditure—it is investment in our collective future. Teachers shape every other profession; they deserve compensation reflecting this critical role.
Badan legislatif harus mengambil tindakan anggaran segera: Pertama, tingkatkan gaji dasar guru minimal 30% untuk mencapai paritas dengan profesi sebanding. Kedua, buat sistem insentif kinerja dan pembayaran merit yang menghargai keunggulan. Ketiga, sediakan program pengampunan pinjaman untuk guru di area kebutuhan tinggi. Keempat, tetapkan jalur progres gaji yang jelas yang mendorong umur panjang karir. Kelima, danai peningkatan ini melalui perpajakan progresif dan realokasi anggaran pendidikan dari biaya administratif. Ini bukan pengeluaran—ini investasi dalam masa depan kolektif kita. Guru membentuk setiap profesi lain; mereka layak mendapat kompensasi yang mencerminkan peran kritis ini.
Tips Menulis Hortatory Exposition
Buat Recommendation yang Specific: Jangan vague. Berikan langkah konkret yang actionable.
Gunakan Imperative Language: Must, should, need to—kata-kata yang mendorong action.
Include Timeline: “immediately,” “by next year,” “starting today”—urgency mendorong action.
Address Multiple Stakeholders: Sebutkan siapa yang harus bertindak (government, schools, parents, students).
Number Your Recommendations: “First… Second… Third…” membuat action items jelas.
Kesimpulan
Menulis hortatory exposition tentang pendidikan membutuhkan tidak hanya argumen yang kuat tetapi juga recommendation yang konkret dan actionable. Dengan mempelajari berbagai contoh hortatory exposition tentang pendidikan beserta terjemahan di atas, kamu bisa memahami cara menyusun teks persuasif yang mendorong perubahan nyata.
Yang membedakan hortatory exposition dari jenis teks lain adalah recommendation section yang spesifik. Jangan hanya meyakinkan pembaca—berikan mereka roadmap untuk bertindak.
Ingin menguasai semua jenis writing bahasa Inggris termasuk hortatory exposition? Bergabunglah dengan Kursus Bahasa Inggris Privat Online Termurah di Golden Online Class dan dapatkan bimbingan comprehensive dari tutor berpengalaman!


